Basis Intelektual Politisi

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2020 - 00:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ismail Weripang

Negarawan Muda

Embaranmedia.com, Fakfak – Biarpun sudah terjadi perubahan politik yang di alami oleh bangsa Indonesia,  pada dasarnya peranan Intelektual tidak ikut berubah, terutama karena proses perubahan politik yang terjadi masih terus berlangsung. Artinya,  ia masih di hadapkan pada esensi dari dilema-dilema yang sama.  Akan tetapi, telah terdapat perbedaan prespektif dalam caranya memandang dilema-dilema tersebut,  dan dengan begitu berpengaruh terhadap beberapa perubahan pada konsep diri para Intelektual.  

Dilema yang paling berat adalah, memang dilema mengenai hubungan Intelektual itu dengan Politik (kekuasaan).  Selama ini, ia masih memiliki ide-ide yang jernih mengenai masa depan Negaranya,  tujuan-tujuan yang harus di kejar,  dan caranya tujuan itu harus di capai,  membuatnya tidak lagi bisa berpaling dari kekuasaan sebagai suatu alat untuk mewujudkan gagasan-gagasannya itu ke dalam kenyataan.  Pada saat bersamaan sikapnya sendiri yang ambivalen terhadap kekuasaan masih tetap sama.  Dengan kata lain,  Intelektual pun sedang berada dalam keadaan krisis,  sesuatu yang direfleksikan dalam perdebatan modernitas dan pos modernitas. 

Debat-debat ini berkisar seputar bagaimana intelektual harus bersikap dalam konteks yang baru,  dalan pergaulannya dengan negara atau partai politik.  Yakni,  dalam kaitannya dengan seluruh cakupan kesempatan yang semakin membesar guna memfungsikan Intelektualitasnya dalam cara-cara yang dapat membantu.  Krisis yang dialami kaum intelektual dalam hal ini,  salah satu sebabnya adalah bahwa konstruksi peran-peran baru Intelektual dari tradisi-tradisi yang berlaku,  sekaligus juga dimungkinkan dan dibatasi oleh konteks yang baru. 

Tradisi-tradisi dan konteks-konteks adalah “bahan” yang memunculkan kembali peran-peran yang baru bagi Intelektual dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi sebagai akibat terjadi pergeseran pekerja Intelektual dari posisi marjinal dalam masyarakat ke posisi yang lebih sentral.Di samping itu,  terdapat kesadaran yang lebih besar akan perlunya menegakkan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan yang memiliki daya bantu di   dalam masyarakat,  yang dapat membatasi penyalahgunaan kekuasaan dan menjamin pastisipasi sukarela masyarakat dan organisasi.  Seyoginya,  ketika seorang politisi memiliki basis Intelektual,  ia akan lebih mengedepankan perubahan-perubahan,  pembaruan-pembaruan untuk kepentingan orang banyak secara visioner.  

Melihat realitas sekarang,  Indonesia memang makin membutuhkan politisi-politisi yang memiliki komitmen orientasi dan visi intelektualitas, lebih-lebih pada saat banyak produk keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat dan kualitas masa depan bangsa lebih banyak yang sesaat.  Komitmen adalah tanggung jawab Intelektual. Kita harus berbenah untuk menjemput setiap perubahan yang ada.  (**)

Berita Terkait

Opini WTP vs Pencitraan Kepala Daerah
Keistimewaan Malam Lailatul Qadar
Pembangunan Melejit, Ekonomi Makin Sulit
Pemilu Serentak, Hajatan Boros Dalam Sistem Keropos
Tinta Demokrasi di Tahun 2024
Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78 Tahun
Kasus HIV Meningkat, Buah Penerapan System Sekuler
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, Umumkan Pengakuan Atas Kemerdekaan Indonesia
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Juni 2024 - 20:59 WIB

Opini WTP vs Pencitraan Kepala Daerah

Senin, 1 April 2024 - 12:03 WIB

Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

Selasa, 13 Februari 2024 - 22:05 WIB

Pembangunan Melejit, Ekonomi Makin Sulit

Selasa, 13 Februari 2024 - 16:10 WIB

Pemilu Serentak, Hajatan Boros Dalam Sistem Keropos

Selasa, 2 Januari 2024 - 08:39 WIB

Tinta Demokrasi di Tahun 2024

Berita Terbaru

error: