Sanggar Tanace Hidupkan Seni Budaya Fakfak di Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Tanah Papua

EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK — Perayaan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah Islam di Tanah Papua, tetapi juga menjadi panggung bagi pelestarian seni dan budaya lokal.

Salah satunya ditunjukkan oleh Sanggar Tanama Cengkeh Tiga (Tanace) yang tampil memukau dalam rangkaian kegiatan peringatan tersebut. Sanggar yang dipimpin Wahid Weripih itu membawakan sejumlah kesenian tradisional khas Fakfak, di antaranya Tarian Titir, Tumor dan Sawat.

Titir, Tumor dan Sawat tidak sekadar menjadi pertunjukan hiburan. Keduanya menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Fakfak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui penampilan tersebut, Sanggar Tanace turut memperlihatkan bagaimana seni budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan momentum keagamaan dan sejarah yang memiliki arti penting bagi masyarakat Fakfak.

Baca Juga :  Pengaduan Masyarakat Jadi Perhatian, Kantor Pertanahan Fakfak Ikuti Evaluasi

Kiprah Sanggar Tanace tidak berhenti pada malam Haflah 07 Agustus 2026. Sanggar tersebut kembali dipercaya untuk tampil pada puncak peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua, yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) KH. Ma’ruf Amin, Fakfak.

Penampilan Sanggar Tanace pada puncak acara menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian masyarakat. Seni tradisional kembali hadir di tengah perhelatan besar yang dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan dan menjadi momentum penting bagi Kabupaten Fakfak.

Ketua Sanggar Tanace, Wahid Weripih, bersama para anggota sanggar terus menunjukkan komitmen untuk menjaga keberadaan seni dan budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Ketua Sanggar Tanace, Wahid Weripih, mengatakan keikutsertaan sanggar tanace dalam rangkaian peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Fakfak.

Baca Juga :  Jaga Pala Tomandin dari Serangan Hama, Brigade OPT Fakfak Diperkuat

“Kami ingin terus melestarikan seni budaya Fakfak. Karena budaya adalah identitas kita, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda,” ujar Wahid Weripih kepada awak media di Fakfak Papua Barat.

Menurutnya, keberadaan sanggar seni memiliki peran penting dalam memberikan ruang kepada generasi muda untuk belajar dan mengenal berbagai kesenian tradisional yang ada di Fakfak.

Ia berharap kegiatan-kegiatan besar seperti Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua dapat terus memberikan ruang bagi pelaku seni dan budaya lokal untuk tampil.

“Kami berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mau belajar dan ikut melestarikan kesenian daerah. Jangan sampai budaya yang menjadi warisan leluhur kita hilang karena tidak ada lagi yang meneruskannya,” katanya.

Baca Juga :  Pemkab Fakfak Perkuat Mutu Pala hingga Tingkat Kampung

Bagi Sanggar Tanace, tampil dalam peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua bukan sekadar memenuhi undangan pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi bentuk kontribusi generasi muda dan pelaku seni dalam merawat identitas budaya Fakfak sekaligus memperkenalkan kekayaan seni daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Penampilan Sanggar Tanace pun menunjukkan bahwa menjaga sejarah tidak hanya dilakukan melalui cerita dan catatan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui seni yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari panggung Haflah hingga puncak peringatan 666 tahun, Sanggar Tanace membuktikan bahwa seni dan budaya lokal tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Fakfak.

Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia

Tutup
error: