Wahidin Puarada Ungkap Makna di Balik Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua Fakfak

EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK – Rangkaian kegiatan memperingati 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak berlangsung selama 25 hari, terhitung sejak 15 Juli hingga puncak pelaksanaan pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Ketua Panitia Pelaksanaan, Dr. Hi. Wahidin Puarada, M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diisi dengan berbagai perlombaan dan kegiatan keagamaan yang melibatkan ribuan masyarakat.

Menurut Wahidin, sedikitnya terdapat tujuh mata lomba yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Di antaranya pidato sejarah masuknya agama Islam di Tanah Papua, hadrah, sholawat, berjanji berjamaah serta pembacaan Yasin secara berjamaah. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut mendapat antusiasme besar dari masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Baca Juga :  HUT ke-81 TNI AL, Kasal Tekankan Transformasi Menuju Kekuatan Maritim Modern

“Kegiatan itu dimulai sejak 15 Juli dan hari puncaknya tanggal 8 Agustus2026. Artinya kegiatan berlangsung selama 25 hari sampai hari H. Jumlah pesertanya juga luar biasa, mencapai sekitar 4.666 orang dari 259 grup,”jelas Dr. Wahidin Puarada akrab disapa Pace WP.

Wahidin Puarada mengatakan, persiapan kegiatan bahkan telah dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Dampaknya tidak hanya terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat dalam perlombaan, tetapi juga mulai tumbuhnya kebiasaan keagamaan di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Kantor Pertanahan Fakfak Mediasi Sengketa, Dorong Kepastian Hukum

“Anak-anak mulai terbiasa melantunkan sholawat, sementara ibu-ibu di berbagai kompleks secara bersama-sama berlatih membaca Yasin dan berjanji,”ungkapnya.

Ia menilai, fenomena tersebut menjadi sesuatu yang berbeda dan positif bagi kehidupan masyarakat Fakfak. Menurutnya, semangat yang muncul selama rangkaian kegiatan tidak boleh berhenti setelah peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua berakhir, tetapi harus terus dilanjutkan sehingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya dilaksanakan oleh panitia, tetapi oleh seluruh masyarakat Fakfak, baik Islam, Protestan maupun Katolik. Ini membuktikan falsafah Satu Tungku Tiga Batu benar-benar hidup di Kabupaten Fakfak. Bahkan ada peserta lomba dari kalangan Kristen dan dukungan dari tokoh-tokoh lintas agama. Inilah Fakfak yang kita banggakan,”ujar Wahidin.

Baca Juga :  Pertanahan Fakfak Perkuat Data Lahan LP2B di Bomberay-Tomage

Wahidin pun menilai dukungan lintas agama tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat Satu Tungku Tiga Batu bukan sekadar slogan, melainkan telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Fakfak.

Pewarta: Emby || Editor: Redaksi Embaranmedia

Tutup
error: