Jalan Sanggram-Weri Tak Kunjung Mulus, Pemuda Fakfak Timur Menanti Perhatian Serius
EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK — Persoalan infrastruktur jalan menuju kawasan Sanggram–Weri kembali menjadi perhatian masyarakat Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kondisi akses yang belum memadai dinilai tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga ikut memperlambat perkembangan sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga pariwisata di wilayah tersebut.
Sorotan itu disampaikan Iwan Manggawa, pemuda asal Kampung Saharei, Distrik Fakfak Timur. Menurutnya, Jalan Sanggram–Weri bukan sekadar ruas penghubung antarkampung, melainkan salah satu akses penting yang dapat membuka peluang lebih besar bagi masyarakat Fakfak Timur untuk berkembang.
Iwan menilai, ketika akses jalan belum memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, berbagai potensi yang dimiliki Fakfak Timur seakan masih harus “menunggu giliran” untuk berkembang.
“Jalan Sanggram–Weri menjadi masalah utama untuk kemajuan Fakfak Timur. Dampaknya bisa kita lihat langsung di lapangan, mulai dari pelayanan kesehatan, pendidikan, aktivitas nelayan dan petani, hingga sektor pariwisata,” ujar Iwan Manggawa kepada embaranmedia.com via Whatshaap, Kamis (03/09/2026).
Kemudian, salah satu persoalan yang menurut Iwan paling mendesak adalah akses pelayanan kesehatan. Kondisi jalan membuat petugas kesehatan di Puskesmas Weri menghadapi kesulitan ketika harus merujuk pasien dalam kondisi kritis ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di Fakfak.
Dalam kondisi tertentu, kata dia, masyarakat bahkan harus mencari jalur alternatif melalui laut. Pasien dari wilayah pelayanan Puskesmas Weri dapat diantar menggunakan perahu Johnson menuju Kampung Wambar. Setelah tiba di Wambar, pasien kembali harus melanjutkan perjalanan menggunakan ambulans menuju RSUD Fakfak.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan jalan bukan semata soal kenyamanan perjalanan, tetapi bagi pasien kritis, setiap menit tentu memiliki arti.
“Ini bukan hanya persoalan jalan rusak atau jalan belum bagus. Kalau ada pasien kritis, masyarakat harus mencari cara agar bisa secepatnya sampai ke rumah sakit,” katanya.
Selain itu juga, Iwan membeberkan, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur jalan memiliki hubungan langsung dengan kualitas pelayanan dasar dan keselamatan masyarakat.
Persoalan akses juga dirasakan oleh para guru yang bertugas di sekolah-sekolah di Distrik Fakfak Timur, baik tingkat SD maupun SMP.
Iwan mengatakan, para tenaga pendidik membutuhkan akses transportasi yang lebih baik agar mobilitas mereka menuju tempat tugas dapat berjalan lebih lancar. Jalan Sanggram–Weri diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mendukung keberlangsungan pelayanan pendidikan di wilayah tersebut.
Baginya, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah. Sebab, sekolah yang berdiri jauh dari akses transportasi yang layak tetap akan menghadapi tantangan dalam menghadirkan proses pendidikan yang maksimal.
“Jalan Sanggram–Weri menjadi harapan utama bagi guru-guru yang mengajar di Fakfak Timur. Kalau aksesnya semakin baik, tentu akan membantu mereka dalam menjalankan tugas sekaligus mendukung kemajuan pendidikan di wilayah ini,” jelasnya.
Dampak lainnya dirasakan masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor perikanan dan pertanian.
Menurut Iwan, keterbatasan akses darat ikut memengaruhi biaya mobilitas masyarakat. Di tengah harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus menjadi beban bagi masyarakat, tersedianya akses jalan yang lebih baik dinilai dapat menjadi alternatif untuk menekan biaya transportasi sekaligus memperpendek jarak masyarakat menuju pasar.
Ia berharap Jalan Sanggram–Weri nantinya tidak hanya menjadi jalan yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya, tetapi juga menjadi jalur ekonomi yang membuka akses nelayan dan petani Fakfak Timur terhadap pasar.
“Jalan ini bisa mendekatkan pasar kepada masyarakat. Nelayan dan petani tidak hanya membutuhkan tempat untuk memproduksi, tetapi juga membutuhkan akses untuk membawa hasil mereka ke pasar dengan biaya yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Dengan akses yang lebih baik, Iwan optimistis perputaran ekonomi masyarakat di Fakfak Timur dapat semakin berkembang.
Fakfak Timur juga memiliki sejumlah potensi wisata yang menurut Iwan belum sepenuhnya dikenal luas. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah akses menuju kawasan tersebut.
Ia menilai, wisatawan tentu membutuhkan akses yang relatif mudah dan nyaman untuk dapat mengunjungi destinasi wisata.
“Potensi wisata kita banyak, tetapi kalau aksesnya sulit, bagaimana orang mau datang dan melihat langsung? Jangan sampai wisata kita hanya ramai dibicarakan, tetapi sulit didatangi,” katanya.
Menurutnya, pembangunan Jalan Sanggram–Weri dapat memberikan efek domino terhadap sektor pariwisata. Ketika akses terbuka, semakin besar peluang masyarakat luar untuk mengenal destinasi wisata sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan wisata.
Iwan juga menyoroti status kawasan Fakfak Timur yang telah ditetapkan sebagai wilayah transmigrasi oleh Kementerian Transmigrasi.
Dengan adanya kawasan transmigrasi Weri–Saharei, ia menilai sudah saatnya pemerintah melihat pembangunan Jalan Sanggram–Weri dalam perspektif yang lebih luas.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Fakfak dapat mendorong perubahan status ruas tersebut dari jalan lokal menjadi jalan dengan status yang lebih strategis, termasuk memperjuangkan peningkatan status menjadi jalan nasional sesuai dengan kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, peningkatan status jalan akan menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan kawasan transmigrasi sekaligus mempercepat pertumbuhan wilayah Fakfak Timur.
“Kalau kawasan ini sudah menjadi bagian dari pengembangan transmigrasi, maka infrastrukturnya juga harus dipikirkan secara serius. Jangan sampai kawasan dibangun, tetapi pintu masuknya masih menjadi persoalan,” ujarnya.
Iwan menyebut pembangunan Jalan Sanggram–Weri sebagai salah satu kunci yang dapat membuka peluang baru bagi Fakfak Timur.
Ia menggambarkan jalan tersebut sebagai sebuah “pintu” yang ketika dibuka, akan memungkinkan berbagai sumber daya manusia dengan latar belakang ilmu pengetahuan dan keahlian untuk masuk dan ikut membangun wilayah tersebut.
“Saya sering menyebut bahwa Jalan Sanggram–Weri adalah pintu yang akan terbuka, membawa manusia dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk membangun wajah baru Fakfak Timur ke depan,” ungkapnya.
Menurut Iwan, pembangunan jalan bukan hanya tentang menghubungkan titik di peta. Lebih dari itu, jalan menjadi penghubung antara masyarakat dengan pelayanan kesehatan, pendidikan, pasar, peluang usaha, investasi dan pariwisata.
Karena itu, ia berharap persoalan Jalan Sanggram–Weri dapat menjadi perhatian bersama dan dibahas secara serius oleh pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun pemerintah pusat.
“Harapan kami sederhana, akses ini bisa diperhatikan dan dibangun dengan baik. Karena ketika jalannya terbuka, peluang masyarakat untuk maju juga semakin terbuka,” pungkasnya.
Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia

















