Pala Tomandin Fakfak Terus Bergerak, Retribusi Tembus Rp505,68 Juta hingga September
EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK — Komoditas Pala Tomandin terus menunjukkan perannya sebagai salah satu komoditas strategis Kabupaten Fakfak. Hingga September 2026, aktivitas produksi dan perdagangan antarpulau pala menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp174,09 miliar, sementara penerimaan retribusi daerah telah menembus Rp505,68 juta.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya kontribusi komoditas pala terhadap perputaran ekonomi masyarakat sekaligus Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Fakfak.
Berdasarkan data Januari hingga September 2026, total produksi pala yang tercatat melalui aktivitas perdagangan antarpulau mencapai 1.157,58 ton atau 1.157.583 kilogram.
Produksi tersebut terdiri atas pala kulit sebanyak 850.189 kilogram atau 850,19 ton, setara 73,45 persen. Kemudian pala ketok sebanyak 146.987 kilogram atau 146,99 ton (12,70 persen), serta fuli atau bunga pala sebanyak 160.407 kilogram atau 160,41 ton (13,86 persen).
Jika dilihat berdasarkan pergerakan produksi bulanan, volume tertinggi tercatat pada Februari 2026 yang mencapai 262,40 ton. Angka tersebut disusul Januari sebesar 233,25 ton dan Mei sebesar 146,71 ton.
Memasuki Juni dan Juli, volume produksi mengalami penurunan cukup signifikan sebelum kembali bergerak pada Agustus dan September.
Dari aktivitas perdagangan tersebut, penerimaan retribusi daerah hingga September 2026 tercatat mencapai Rp505.681.650.
Khusus September, penerimaan retribusi mencapai Rp51.316.000, meningkat dibandingkan Agustus sebesar Rp49.356.500 dan Juli sebesar Rp44.247.250.
Sementara itu, nilai transaksi perdagangan pala antarpulau selama Januari hingga September 2026 mencapai Rp174.099.736.250.
Nilai tersebut menggambarkan besarnya perputaran ekonomi yang dihasilkan komoditas pala, mulai dari petani pekebun, pedagang, pelaku usaha hingga rantai distribusi antardaerah.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan capaian penerimaan retribusi dari komoditas pala hingga September 2026 menunjukkan perkembangan positif.
Menurutnya, capaian tersebut patut disyukuri meskipun peningkatannya belum terlalu signifikan karena sektor perkebunan pala masih menghadapi tantangan produktivitas akibat musim kering yang cukup panjang dan kondisi El Niño.
“Kita patut bersyukur karena sampai dengan September 2026 penerimaan retribusi dari komoditas pala telah mencapai Rp505,68 juta. Angka ini terus mengalami kenaikan dari bulan ke bulan, meskipun kenaikannya tidak terlalu tajam,” kata Widhi.
“Kondisi tersebut harus kita lihat secara realistis karena saat ini kita menghadapi tantangan produktivitas akibat musim kering yang cukup panjang dan kondisi El Niño yang berdampak langsung terhadap kebun-kebun pala masyarakat,” lanjutnya.
Widhi menjelaskan, dampak kekeringan tidak hanya dirasakan tanaman pala yang sudah produktif, tetapi juga mengancam tanaman remaja yang tengah memasuki fase belajar berbuah.
“Di beberapa wilayah, tanaman pala mengalami kekeringan yang cukup berat. Bahkan tanaman remaja yang sebenarnya sedang dipersiapkan untuk memasuki masa produksi mengalami kondisi fatal akibat kekurangan air dan sebagian mengalami kematian,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat berpengaruh terhadap produktivitas pala pada periode berikutnya.
Meski menghadapi tantangan iklim, Widhi menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh mengurangi optimisme terhadap masa depan Pala Tomandin Fakfak.
Pasalnya, peluang pasar masih terbuka lebar, terutama dengan meningkatnya permintaan terhadap fuli Pala Tomandin.
“Di tengah tantangan produktivitas, kita masih mendapatkan kabar baik dari sisi pasar. Permintaan terhadap fuli Pala Tomandin saat ini mengalami lonjakan dan ikut mendorong kenaikan harga hingga mencapai sekitar Rp325 ribu per kilogram, bahkan berada di atas standar harga yang selama ini ditetapkan sesuai ketentuan Pemerintah Kabupaten Fakfak,” ungkapnya.
Kenaikan harga tersebut, kata Widhi, menjadi sinyal positif bahwa kualitas dan karakteristik Pala Tomandin Fakfak semakin mendapat perhatian pasar.
Namun, peluang pasar tersebut harus diikuti dengan konsistensi dalam menjaga mutu agar kepercayaan konsumen tetap terpelihara.
“Kita patut bersyukur dan tetap optimis. Harga yang meningkat, khususnya fuli pala, menunjukkan bahwa pasar memberikan apresiasi terhadap produk kita,” katanya.
“Tetapi jangan sampai kenaikan harga membuat kita mengabaikan mutu. Justru sekarang waktunya kita semakin disiplin menjaga kualitas Pala Tomandin Fakfak, mulai dari kebun, proses panen, pemisahan fuli dan biji, pengeringan, penyimpanan, sampai dengan pengiriman ke luar daerah,” sambungnya.
Selain produksi dan perdagangan, Dinas Perkebunan Fakfak juga terus memperkuat pengendalian peredaran serta sertifikasi bibit pala.
Hingga September 2026, tercatat sebanyak 35.296 pohon telah memperoleh sertifikasi peredaran bibit pala. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahan tanam yang beredar memiliki kualitas dan memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Widhi menambahkan, mutu menjadi salah satu kunci utama untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi Pala Tomandin Fakfak.
Karena itu, petani pala, pedagang, pelaku usaha, pemerintah, MPIG-PTF, penangkar, serta seluruh pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat kolaborasi.
“Kita ingin Pala Tomandin bukan hanya banyak produksinya, tetapi juga semakin baik kualitasnya, semakin tinggi nilai jualnya, semakin luas pasarnya dan pada akhirnya semakin besar manfaat ekonominya bagi petani pala dan daerah,” tegasnya.
“Tantangan kekeringan dan El Niño harus kita hadapi bersama dengan pemeliharaan kebun, rehabilitasi tanaman yang terdampak, serta penguatan kualitas produksi,” pungkas Widhi.
Capaian hingga September 2026 memperlihatkan bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki dua kekuatan sekaligus, yakni potensi produksi dan nilai ekonomi yang besar.
Di tengah tantangan iklim yang mengancam produktivitas, meningkatnya permintaan dan harga fuli menjadi peluang untuk memperkuat nilai tambah komoditas pala sekaligus meningkatkan manfaat ekonominya bagi petani dan daerah.
Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia

















