Oleh: Bunga Kutanggas
EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK – Beberapa hari terakhir, media sosial digegerkan oleh konten viral yang mendorong perempuan menikah di usia muda. Dalam video TikTok yang beredar luas, seorang perempuan menceritakan pengalamannya menikah pada usia 19 tahun dan menyarankan perempuan lain meniru jejaknya.
Alasannya sederhana: “Kesalahan di usia muda masih bisa diperbaiki karena hidup masih panjang.”
Fenomena ini, meski tampak ringan dan inspiratif, sebenarnya mengandung risiko serius. Narasi personal yang dikemas menarik bisa menyesatkan generasi muda. Pernikahan bukan sekadar soal mengikuti tren atau meniru pengalaman orang lain; ini adalah keputusan besar yang membawa konsekuensi jangka panjang mental, ekonomi, dan pendidikan.
Tokoh perempuan muda asal Kabupaten Fakfak, Bunga Kutanggas, menyampaikan opini dan pernyataan sikapnya terkait konten viral di media sosial TikTok yang mengajak perempuan untuk menikah di usia muda. Konten tersebut dibuat oleh seorang perempuan yang mengklaim menikah pada usia 19 tahun dan mendorong perempuan lain untuk mengikuti langkah serupa dengan alasan bahwa kesalahan di usia muda masih dapat diperbaiki karena usia yang dianggap masih panjang.
Menurut Bunga, narasi tersebut tidak dapat dijadikan rujukan umum bagi perempuan, khususnya generasi muda. Ia menilai bahwa pernikahan bukan sekadar pilihan personal, melainkan keputusan besar yang membawa konsekuensi jangka panjang dalam berbagai aspek kehidupan.
“Menikah di usia muda bukan sesuatu yang bisa direkomendasikan secara umum, terutama jika tidak dibarengi dengan kesiapan mental, ekonomi, dan pendidikan. Setiap perempuan memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda,” ujar Bunga.
Bunga menegaskan bahwa ajakan menikah muda yang disampaikan melalui media sosial berpotensi membentuk pola pikir yang keliru, terutama jika pengalaman personal dijadikan standar hidup bagi perempuan lain. Ia menilai bahwa media sosial seharusnya digunakan untuk menyampaikan edukasi yang berimbang, bukan narasi yang bersifat menggeneralisasi.
Selain itu, Bunga juga menyoroti pernyataan suami dari perempuan dalam konten viral tersebut yang menyebutkan bahwa pendidikan tinggi atau perkuliahan merupakan sesuatu yang tidak penting, bahkan disebut sebagai “scam”, dengan alasan bahwa menempuh pendidikan selama empat tahun belum tentu menghasilkan ilmu yang berguna di dunia kerja.
Sebagai seorang perempuan Fakfak yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi, Bunga menilai pandangan tersebut tidak mencerminkan pemahaman yang utuh tentang makna pendidikan.
“Segala bentuk pendidikan, baik dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, adalah bagian dari proses pembentukan pengetahuan dan karakter manusia. Ilmu tidak bisa diukur hanya dari manfaat instan di dunia kerja,” tegasnya.
Bunga Kutanggas diketahui telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri sejak usia 18 tahun. Saat ini, ia juga sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Fakfak dan telah memasuki semester enam. Menurutnya, pendidikan dan kemandirian ekonomi bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dapat berjalan berdampingan.
Ia menambahkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk cara berpikir kritis, etika, serta kemampuan individu dalam menghadapi tantangan di masa depan.
“Tidak ada pengetahuan yang tidak berfungsi selama digunakan dalam konteks yang positif. Ilmu adalah bekal hidup yang nilainya tidak selalu bisa diukur secara langsung,” ujarnya.
Sebagai tokoh perempuan muda Fakfak, Bunga berharap perempuan, khususnya generasi muda, dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan konten viral di media sosial. Ia mengimbau agar keputusan besar seperti pernikahan tidak diambil berdasarkan tren atau narasi populer, melainkan melalui pertimbangan matang terhadap pendidikan, kesiapan diri, dan masa depan.







