Oleh : Fachtia Bauw Uswanas
EMBARANMEDIA.COM – Belakangan ini, publik ramai membicarakan soal TikTok yang “dibeli” atau dipaksa berpindah kendali ke pihak Amerika. Sekilas, isu ini terlihat seperti urusan bisnis dan keamanan data semata. Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada persoalan yang jauh lebih besar: siapa yang menguasai media, dialah yang punya pengaruh besar atas cara berpikir manusia.
Menurut laporan Kompas Tekno (25 Oktober 2024), Menurut data riset terbaru, TikTok diperkirakan memiliki lebih dari 1,6 – 1,7 miliar pengguna aktif bulanan di dunia. Selain itu, pada Juli 2024, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia dengan sekitar 157,6 juta pengguna, mengalahkan Amerika Serikat yang memiliki sekitar 120,5 juta pengguna. Fakta ini penting, karena menunjukkan bahwa TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan bagi masyarakat Indonesia, tetapi sudah menjadi ruang hidup digital jutaan orang, terutama generasi muda.
Isu pengambilalihan TikTok oleh investor Amerika bukan sekadar bisnis biasa. Di baliknya terdapat dorongan kapitalisme sekuler — sebuah sistem ekonomi yang memaksimalkan keuntungan, dominasi pasar, dan kontrol narasi publik tanpa memasukkan nilai moral atau ideologis di luar logika pasar. Pengambilalihan TikTok AS oleh investor Amerika (melibatkan perusahaan seperti Oracle dan Silver Lake) adalah manifestasi dari strategi kapital untuk mengontrol data dan algoritma rekomendasi, memperluas jaringan ekonomi digital, melindungi kepentingan domestik dari pesaing global dan memastikan bahwa narasi yang beredar sesuai dengan logika pasar dan kekuasaan lokal. (The Guardian, 19/12/2025).
Media Sosial (Tidak) Netral
Kapitalisme sekuler adalah sistem yang beroperasi tanpa nilai religius atau moral yang kuat, namun menempatkan keuntungan, ekspansi pasar, dan penguasaan sumber daya (termasuk data manusia) sebagai tujuan utama. Media sosial dipandang bukan sebagai ruang masyarakat, tetapi pasar daya perhatian, Ideologi politik atau sosial dipengaruhi bukan melalui debat terbuka, tetapi melalui algoritma yang memanipulasi apa yang dilihat pengguna. Narasi isu besar seperti konflik global, identitas budaya, atau kritik terhadap sistem ekonomi sering tergeser oleh konten hiburan yang lebih “menguntungkan” secara komersial. Dalam sistem seperti ini, fakta atau kebenaran sering kalah oleh apa yang menjual lebih banyak perhatian dan waktu pengguna.
Di era sekarang, media sosial tidak lagi bisa dianggap netral atau tidak berpihak pada pemikiran tertentu. TikTok, dengan algoritmanya, mampu menentukan video apa yang sering kita lihat, isu apa yang terasa penting, dan konten apa yang pelan-pelan kita lupakan. Tanpa disadari, kebiasaan menonton ini membentuk selera, emosi, bahkan cara berpikir kita. Inilah sebabnya TikTok diperebutkan. Bukan semata karena aplikasinya, tetapi karena data dan perhatian manusia di dalamnya.
Dalam sistem kapitalisme sekuler, perhatian manusia adalah komoditas mahal. Karna semakin lama orang menatap layar, maka semakin besar keuntungan iklan, data, dan pengaruh yang bisa dikumpulkan. Hal ini menjadikan siapa yang menguasai dunia digital atau maka ia akan menguasai dunia dan pemikiran manusia.
Kapitalisme Sekuler dan Penguasaan Media
Kapitalisme sekuler bekerja dengan satu logika utama: keuntungan dan dominasi pasar. Nilai moral, arah pendidikan, atau dampak sosial sering kali berada di urutan belakang. Media sosial dipandang sebagai ladang uang dan pengaruh, bukan sebagai ruang untuk membangun kesadaran masyarakat.
Karena itu, ketika TikTok dianggap berpotensi “lepas kendali” atau dimiliki pihak yang bukan sekutu, maka solusinya bukan sekadar melarang, tetapi menguasai atau mengendalikannya. Dengan menguasai media, kekuasaan tidak perlu memaksa. Cukup mengatur arus informasi, maka opini publik akan bergerak sendiri.
Lalu, Mengapa Indonesia Penting?
Indonesia menjadi sangat menarik karena dua hal. Pertama, jumlah pengguna TikTok yang sangat besar. Kedua, Sebagian besar pengguna berada pada kelompok usia muda yang sangat rentan terhadap pengaruh media digital. Artinya, apa yang populer di Indonesia bisa berpengaruh luas, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial dan moral.
Dalam kacamata kekuatan global, Indonesia bukan sekadar pasar, melainkan medan pengaruh. Menguasai perhatian generasi muda Indonesia berarti ikut membentuk arah nilai, gaya hidup, dan kepedulian sosial di masa depan. Ini tidak dilakukan dengan serangan terbuka, melainkan lewat hiburan tanpa henti, tren viral, dan algoritma yang menentukan apa yang layak naik dan apa yang tenggelam.
Indonesia tidak sedang dijajah secara fisik. Namun yang patut diwaspadai adalah penjajahan cara berpikir. Ketika masyarakat lebih sibuk mengejar viral daripada memahami persoalan, lebih tertarik hiburan daripada kebenaran, maka kendali perlahan berpindah tangan.
Dalam kondisi seperti ini, umat dan bangsa bisa kehilangan arah tanpa merasa sedang kehilangan apa pun.
Penutup
Pengambilalihan TikTok bukan sekadar isu bisnis atau teknologi. Ia adalah bagian dari logika kapitalisme sekuler yang ingin menguasai media, data, dan perhatian manusia. Indonesia, dengan jumlah pengguna yang sangat besar, berada di tengah pusaran itu.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya siapa yang memiliki TikTok, tetapi: Apakah kita masih mengendalikan cara berpikir kita sendiri, atau sudah sepenuhnya diserahkan pada algoritma?







