Fakfak Gaspol Pala, Bidik Jadi Andalan Pertanian Papua Barat 2027
EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK – Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan terus mendorong komoditas unggulan daerah, khususnya pala, agar masuk dalam prioritas pembangunan pertanian Papua Barat ke depan. Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Perencanaan Pembangunan Pertanian Tahun Anggaran 2026 yang digelar selama dua hari, 23–24 April 2026, di Swiss-Belhotel Manokwari.
Mengusung tema “Arah Pembangunan Pertanian Papua Barat yang Terencana, Terpadu, dan Berkelanjutan,”Rakornis ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan sektor pertanian antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Forum ini juga bertujuan merumuskan langkah pembangunan yang lebih terukur, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Nency Titty L. Wyzer, mewakili Gubernur Papua Barat. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis sebagai tulang punggung ketahanan pangan daerah, instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Dari Rakornis tersebut, dihasilkan sejumlah kesepakatan penting sebagai arah pembangunan pertanian Papua Barat ke depan. Salah satunya adalah penguatan sistem pertanian yang produktif, inklusif, dan berbasis potensi lokal, dengan fokus pada ketahanan serta kemandirian pangan. Hal ini sejalan dengan misi pembangunan Provinsi Papua Barat 2025–2029 untuk mewujudkan pertanian yang mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan.
Selain itu, Rakornis juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kinerja pembangunan, serta memastikan setiap program memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Seluruh usulan dari kabupaten/kota akan menjadi acuan dalam penyusunan program dan penganggaran pembangunan pertanian Tahun 2027.

Dalam forum Desk Rakornis, Kepala Dinas Perkebunan Fakfak yang diwakili Kepala Bidang Perlindungan Tanaman, Konstantinus Uswanas, S.ST, menyampaikan sejumlah usulan strategis. Usulan tersebut difokuskan pada dua program utama, yakni penyediaan sarana pertanian dan pengembangan sarana pertanian.
Program ini diarahkan untuk mempercepat perluasan tanaman pala sebagai komoditas unggulan daerah, sekaligus mendorong pengembangan komoditas perkebunan lainnya seperti kopi dan kelapa.
Tidak hanya pada aspek budidaya, Pemerintah Kabupaten Fakfak juga mengusulkan penguatan sektor pascapanen dan hilirisasi. Di antaranya melalui pembangunan rumah produksi, asaran pala modern, jalan usaha tani, serta greenhouse.
Seluruh usulan tersebut disusun berdasarkan skala prioritas hasil Musrenbang Distrik, Forum OPD, dan Musrenbang Kabupaten Tahun 2026.
Selanjutnya, program-program ini diusulkan untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat pada Tahun Anggaran 2027.
Dalam forum tersebut juga ditegaskan bahwa Rakornis harus menjadi momentum penting untuk memperjuangkan komoditas unggulan khas Papua Barat agar mendapat perhatian yang proporsional dalam kebijakan pembangunan provinsi.
“Kabupaten Fakfak memiliki kekuatan besar pada sektor perkebunan, khususnya pala sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai historis, ekonomi, dan budaya yang kuat. Karena itu, kami berharap dukungan program dari provinsi tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan hilirisasi, sarana pascapanen, akses infrastruktur kebun, hingga peningkatan kualitas SDM petani,” ujarnya.
Menurut Widhi, jika ekosistem perkebunan dibangun secara terpadu dari hulu hingga hilir, maka pala dan komoditas lokal lainnya tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga mampu tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat yang nyata, inklusif, dan berkelanjutan.
Ia menambahkan, sinergi yang kuat antara pemerintah kabupaten dan provinsi menjadi kunci agar arah pembangunan pertanian benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang langsung dirasakan oleh petani.
Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia

















