Menu

Mode Gelap
Musrenbang Pariwari 2026, Bupati Samaun Soroti Validasi Data Bansos dan Prioritas Listrik-Air Bersih Wagub Abdullah Vanath Temui Massa Demo Gunung Botak, Pemuda Desak Transparansi Tambang Jelang Lebaran, Polres Fakfak Turunkan 64 Personel! Operasi Ketupat Mansinam 2026 Resmi Dimulai PHBI Fakfak Siapkan Enam Titik Salat Id, Takbir Keliling Meriahkan Malam Idul Fitri 1447 H Harga Sembako Dipantau Ketat Jelang Idulfitri, Disperindag Fakfak Pastikan Stok Aman Sasi yang Terbuka di Arguni dan Harapan Baru Cadangan Gas Papua Barat

Opini

Basis Intelektual Politisi

badge-check


					Basis Intelektual Politisi Perbesar

Oleh : Ismail Weripang

Negarawan Muda

Embaranmedia.com, Fakfak – Biarpun sudah terjadi perubahan politik yang di alami oleh bangsa Indonesia,  pada dasarnya peranan Intelektual tidak ikut berubah, terutama karena proses perubahan politik yang terjadi masih terus berlangsung. Artinya,  ia masih di hadapkan pada esensi dari dilema-dilema yang sama.  Akan tetapi, telah terdapat perbedaan prespektif dalam caranya memandang dilema-dilema tersebut,  dan dengan begitu berpengaruh terhadap beberapa perubahan pada konsep diri para Intelektual.  

Dilema yang paling berat adalah, memang dilema mengenai hubungan Intelektual itu dengan Politik (kekuasaan).  Selama ini, ia masih memiliki ide-ide yang jernih mengenai masa depan Negaranya,  tujuan-tujuan yang harus di kejar,  dan caranya tujuan itu harus di capai,  membuatnya tidak lagi bisa berpaling dari kekuasaan sebagai suatu alat untuk mewujudkan gagasan-gagasannya itu ke dalam kenyataan.  Pada saat bersamaan sikapnya sendiri yang ambivalen terhadap kekuasaan masih tetap sama.  Dengan kata lain,  Intelektual pun sedang berada dalam keadaan krisis,  sesuatu yang direfleksikan dalam perdebatan modernitas dan pos modernitas. 

Debat-debat ini berkisar seputar bagaimana intelektual harus bersikap dalam konteks yang baru,  dalan pergaulannya dengan negara atau partai politik.  Yakni,  dalam kaitannya dengan seluruh cakupan kesempatan yang semakin membesar guna memfungsikan Intelektualitasnya dalam cara-cara yang dapat membantu.  Krisis yang dialami kaum intelektual dalam hal ini,  salah satu sebabnya adalah bahwa konstruksi peran-peran baru Intelektual dari tradisi-tradisi yang berlaku,  sekaligus juga dimungkinkan dan dibatasi oleh konteks yang baru. 

Tradisi-tradisi dan konteks-konteks adalah “bahan” yang memunculkan kembali peran-peran yang baru bagi Intelektual dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi sebagai akibat terjadi pergeseran pekerja Intelektual dari posisi marjinal dalam masyarakat ke posisi yang lebih sentral.Di samping itu,  terdapat kesadaran yang lebih besar akan perlunya menegakkan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan yang memiliki daya bantu di   dalam masyarakat,  yang dapat membatasi penyalahgunaan kekuasaan dan menjamin pastisipasi sukarela masyarakat dan organisasi.  Seyoginya,  ketika seorang politisi memiliki basis Intelektual,  ia akan lebih mengedepankan perubahan-perubahan,  pembaruan-pembaruan untuk kepentingan orang banyak secara visioner.  

Melihat realitas sekarang,  Indonesia memang makin membutuhkan politisi-politisi yang memiliki komitmen orientasi dan visi intelektualitas, lebih-lebih pada saat banyak produk keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat dan kualitas masa depan bangsa lebih banyak yang sesaat.  Komitmen adalah tanggung jawab Intelektual. Kita harus berbenah untuk menjemput setiap perubahan yang ada.  (**)

Baca Lainnya

Satu Tahun Kepemimpinan Samaun–Donatus di Fakfak, Akademisi Beri Catatan dan Harapan

5 Maret 2026 - 15:52

Seragam Gratis dan Tantangan Mutu Pendidikan di Fakfak

27 Februari 2026 - 07:11

Akademisi Marthen Pentury Kritik Pengelolaan Air Bersih di Fakfak: 29 Tahun Tak Tuntas, Warga Masih Trauma

20 Februari 2026 - 15:07

TikTok, Media, dan Pengendalian Cara Berpikir Manusia

14 Januari 2026 - 12:16

Menikah Muda: Antara Tren Viral dan Realita Perempuan Fakfak

6 Januari 2026 - 13:34

Trending di Opini
WhatsApp
error: