Sinergi Disbun Fakfak dan EcoNusa, Wujudkan Kebun Pala Produktif Berbasis Perhutanan Sosial

EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK – Kolaborasi antara EcoNusa dan Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dalam pengembangan perhutanan sosial di Kampung Tetar resmi dimulai melalui kegiatan sosialisasi dan pemetaan partisipatif wilayah adat. Kegiatan ini menjadi fondasi awal pelaksanaan program berbasis masyarakat adat di wilayah tersebut.

Program ini tidak hanya menjadi langkah awal dalam membangun pemahaman bersama tentang perhutanan sosial, tetapi juga bertujuan mengidentifikasi potensi, batas wilayah adat, serta ruang kelola masyarakat yang selama ini menjadi sumber penghidupan pekebun Pala Tomandin Fakfak.

Sosialisasi tersebut melibatkan pemerintah distrik, pemerintah kampung, tokoh adat, kelompok tani, serta masyarakat Kampung Tetar yang dilaksanakan pada Rabu (3/05/2026).

Dalam kegiatan itu, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan hutan adat dan kebun pala secara lestari, produktif, dan berkelanjutan. Perhutanan sosial dipahami sebagai sistem pengelolaan kawasan hutan oleh masyarakat secara legal, berbasis kearifan lokal, dan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengabaikan fungsi pelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Kunjungi Pantai Wambar, Ketua Persit KCK Kasuari Akrab dengan Masyarakat Fakfak

Mewakili Bupati Fakfak, Asisten II Setda Kabupaten Fakfak, Arobi Hindom, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi atas sinergi EcoNusa dan Dinas Perkebunan Fakfak dalam mendukung pemberdayaan masyarakat adat melalui program perhutanan sosial. Ia menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang berpihak kepada masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghormati hak-hak masyarakat hukum adat.

Ia juga menekankan pentingnya penegasan batas wilayah adat dalam skema perhutanan sosial untuk memberikan kepastian ruang kelola bagi masyarakat.

“Penegasan batas wilayah adat sangat penting agar masyarakat memiliki kepastian wilayah kelola, baik untuk kawasan hutan, kebun, maupun ruang hidup masyarakat adat. Dengan batas yang jelas, potensi tumpang tindih wilayah dan konflik lahan dapat diminimalkan,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan EcoNusa menjelaskan bahwa lembaganya merupakan organisasi non-profit yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat berkelanjutan. Dalam program perhutanan sosial ini, EcoNusa mendampingi sejumlah kampung, termasuk Kampung Tetar, dalam pengelolaan berbasis masyarakat.

Baca Juga :  Ribuan Umat Padati Fakfak, Perayaan 132 Tahun Misi Katolik Dibalut Harmoni Lintas Agama

“Melalui program ini kami memfasilitasi pemetaan partisipatif wilayah adat sebagai dasar pengelolaan ruang usaha masyarakat yang lestari dan berkelanjutan. Harapannya masyarakat memperoleh kepastian ruang kelola sekaligus menjaga kelestarian hutan adat,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmorojati, ST., MT., menjelaskan bahwa pengembangan perhutanan sosial di Kampung Tetar akan diperkuat melalui program rehabilitasi kebun pala.

Pada tahun 2026, program tersebut disiapkan untuk mendukung 40 Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) pekebun Pala Tomandin yang mengelola lahan seluas 40 hektare dan tergabung dalam empat kelompok tani, yakni Hangkariri, Ndoramur, Wuhu Poho, dan Jantri.

Menurutnya, rehabilitasi kebun pala memiliki keterkaitan erat dengan perhutanan sosial karena keduanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan kelestarian hutan adat.

Baca Juga :  Olahraga, Tarik Tambang, dan Tebak Kata Warnai Kebersamaan Ketua Persit KCK Kasuari Bersama Anggota di Fakfak

Program tersebut mencakup penyulaman tanaman pala, perbaikan teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, hingga peningkatan kapasitas pekebun dalam menerapkan budidaya pala yang baik dan berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan kebun pala masyarakat tetap produktif, hutan tetap terjaga, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan. Pala Fakfak bukan hanya komoditas unggulan, tetapi juga identitas daerah dan warisan budaya yang harus dijaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan Pala Tomandin melalui pendekatan perhutanan sosial juga menjadi upaya menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, EcoNusa, masyarakat adat, dan kelompok tani, Kampung Tetar diharapkan dapat menjadi model pengembangan perhutanan sosial berbasis Pala Tomandin Fakfak yang mengintegrasikan pelestarian hutan, penguatan ekonomi masyarakat, perlindungan wilayah adat, serta pelestarian warisan budaya secara berkelanjutan.

Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia

Tutup
error: