Menu

Mode Gelap
Musrenbang Pariwari 2026, Bupati Samaun Soroti Validasi Data Bansos dan Prioritas Listrik-Air Bersih Wagub Abdullah Vanath Temui Massa Demo Gunung Botak, Pemuda Desak Transparansi Tambang Jelang Lebaran, Polres Fakfak Turunkan 64 Personel! Operasi Ketupat Mansinam 2026 Resmi Dimulai PHBI Fakfak Siapkan Enam Titik Salat Id, Takbir Keliling Meriahkan Malam Idul Fitri 1447 H Harga Sembako Dipantau Ketat Jelang Idulfitri, Disperindag Fakfak Pastikan Stok Aman Sasi yang Terbuka di Arguni dan Harapan Baru Cadangan Gas Papua Barat

Opini

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, Umumkan Pengakuan Atas Kemerdekaan Indonesia

badge-check


					Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, Umumkan Pengakuan Atas Kemerdekaan Indonesia Perbesar

Oleh : Samri Abdullah

SETELAH 78 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah Belanda akhirnya mengakui secara resmi dan tanpa syarat bahwa Indonesia merdeka dari Belanda pada 17 Agustus 1945.

Pernyataan itu di hadapan anggota parlemen dari Partai GroenLinks pada 14 Juni 2023 sebagai tanggapan terhadap pertanyaan mereka mengenai pengakuan resmi terhadap kemerdekaan Indonesia. Rutte, bahkan, berjanji untuk berdiskusi dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo, guna mencapai interpretasi bersama mengenai peringatan hari kemerdekaan tersebut.

Samri Abdullah sebagai Anak Bangsa,anak Negeri, anak adat Banda Naira,Maluku Indonesia,yang berada di Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Mengatakan Bahwa terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Belanda terhadap pernyataan dan Pengakuan tersebut.

Dengan dasar pengakuan itu. Pemerintah Belanda Harus Bertanggung jawab atas berbagai peristiwa masa lalu,Kekejaman Berdarah di berbagai Daerah di Indonesia.

salah satunya Sejarah Dunia Pembantaiaan kebengisan keji dan biadap terhadap 44 tokoh Banda dan 14.000 Ribu Warga masyarakat tak berdosa di Banda Naira,pada 1609 sampai dengan 1621 itu yang di pimpin oleh Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterzoon Coen, memimpin langsung ekspedisi pembantaian di Kepulauan Banda Naira, untuk menghendaki Korporat VOC melakukan penguasaan atas pulau-pulau penghasil rempah-rempah di Banda Naira Indonesia, terutama perdagangaan pala yang kala itu merupakan salah satu komoditas paling laku dan berharga tinggi di Eropa.

Salah satu kesepakatan tukar guling termahal dalam sejarah perdagangan dunia pernah dilakukan oleh Belanda dan Inggris atas salah satu pulau di Nusantara. Yakni pertukaran Pulau Run dan Manhattan di Amerika serikat, Pada 31 Juli 1667 di Kota Breda, Belanda, kedua belah pihak menandatangani Perjanjian Breda yang salah satu isinya adalah mengenai kesepakatan tukar guling tersebut.

Perjanjian Breda memutuskan Pulau Run Banda Naira di Maluku yang sebelumnya dikuasai Inggris menjadi milik Belanda. Adapun Pulau Manhattan di Amerika yang merupakan koloni Belanda resmi menjadi hak Inggris. Pulau Manhattan itu dulunya disebut sebagai Niew Amsterdam.

Maka kami Samri Abdullah Selaku Ketua Umum Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Banda Kabupaten Fakfak Periode 2013-2015. meminta kepada Pemerintah Belanda untuk bertemu Presiden Republik Indonesia.untuk membuka ruang Jalan perundingan Secara Diplomatik di antara dua negara indonesia dan Belanda untuk membicarakan secara terbuka,agar stigma peristiwa kejam HAK dan Ham atas kebenaran peristiwa Berdarah kebiadaban oleh VOC Pemerintah Belanda ini bisa di hilangkan dan terselesaikan dengan jalan diplomatik yang baik dan Bermartabat. (**)

Baca Lainnya

Satu Tahun Kepemimpinan Samaun–Donatus di Fakfak, Akademisi Beri Catatan dan Harapan

5 Maret 2026 - 15:52

Seragam Gratis dan Tantangan Mutu Pendidikan di Fakfak

27 Februari 2026 - 07:11

Akademisi Marthen Pentury Kritik Pengelolaan Air Bersih di Fakfak: 29 Tahun Tak Tuntas, Warga Masih Trauma

20 Februari 2026 - 15:07

TikTok, Media, dan Pengendalian Cara Berpikir Manusia

14 Januari 2026 - 12:16

Menikah Muda: Antara Tren Viral dan Realita Perempuan Fakfak

6 Januari 2026 - 13:34

Trending di Opini
WhatsApp
error: