Tanah Papua Merdeka dari Rasisme

- Jurnalis

Selasa, 24 Agustus 2021 - 06:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

Oleh: Fachtia Bauw Uswanas

(The Voice of Muslimah Papua Barat)

Embaranmedia.com – Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa itu sepenggal kata dari pembukaan undang-undang dasar 1945, sesuai kah dengan hari ini? Sudah merdeka kah bangsa ini? Nyatanya masih ada sebagian dari rakyat indonesia yang masih merasa tidak merdeka dan terpinggirkan karena dianggap berbeda, bahkan tidak jarang mendapatkan diskriminasi dari bangsanya sendiri. Seperti di Papua, mengingat kejadian 2 tahun silam tepat tanggal 21 Agustus 2019, Papua membara karna kasus rasisme yang terjadi disurabaya merambat hingga kedaerah. Bukan kali itu saja, Sebelumnya pada Juli 2016, Asrama Kamasan I Papua di di Yogyakarta dikepung oleh sejumlah organisasi masyarakat dan kepolisian.

Sejumlah mahasiswa ditangkap. Selain itu, menurut laporan Komnas HAM, ditemukan kekerasan verbal yang mengandung unsur rasisme saat pengepungan terjadi. Ditambah lagi, Politikus Partai Hanura yang juga relawan pemenangan Presiden Jokowi di pemilihan presiden, Ambroncius Nababan, melontarkan ucapan rasisme terhadap eks Komisioner Komnas HAM yang juga warga Papua, Mantan komisioner Komnas HAM itu mengunggah foto tangkapan layar berisi muatan rasisme di akun Facebook Ambroncius Nababan.

Di dalamnya foto Natalius disandingkan dengan foto gorila disertai komentar terkait vaksin. “Edodoeee pace. Vaksin ko bukan sinovac pace tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies,” tulis akun Ambroncius Nababan dalam foto yang diunggah akun Twitter @NataliusPigai2, Minggu (24/1). (CNN Indonesia 25/01/2021). Itu beberapa kasus rasisme yang terjadi di papua, yang jika dirunut maka sampai saat ini masih banyak terjadi.

Kilas balik sejarah, pada tahun 1969, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) menandai sejarah baru bagi Papua bagian barat (West Papua) yang bergabung dengan NKRI, walaupun hasil dari referendum saat itu masih menjadi polemik hingga saat ini.Sejak bergabung dengan NKRI banyak polemik yang terjadi antara Indonesia dengan pulau penghasil tambang no 1 didunia ini, dari keinginannya untuk memisahkan diri dari NKRI karena mereka merasa Papua bagian barat bukan merupakan bagian dari indonesia dilihat dari etnis dan ras yang berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya, masalah Freeport yang dikelola oleh asing tepat setelah papua bergabung dengan indonesia, masalah tidak meratanya pembangunan antara indonesia barat dengan indonesia timur, masalah kemiskinan yang tidak teratasi padahal papua memiliki banyak kekayaan, masalah pelanggaran HAM yang tak menemui akhir, hingga masalah sensitif yaitu rasisme yang sering dilontarkan.

Dengan kejadian 16 Agustus 2019 akhirnya bom waktu pun meledak, dengan dalih mempertahankan harga diri akhirnya demonstrasi dan aksi anarkis pun tidak bisa dihindari diberbagai kota di Papua dan Papua Barat, alhasil sakit hati yang selama inipun meluap meminta perhatian. Rakyat Papua selalu merasa tertindas, merasa terpinggirkan, merasa dianggap berbeda, lalu ini semua salah siapa? Rakyat papua yang meminta kemerdekaan sadar betul negeri ini negeri yang kaya, tetapi kenapa rakyatnya miskin tertindas? Bahkan menjadi daerah yang paling miskin di indonesia, Miris bukan? Layaknya dua anak yang dibesarkan dengan cara yang berbeda yang satu dengan kasih sayang dan yang satunya lagi dengan uang, anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, dia mendapat kepercayaan diri dan bisa bersaing berbeda dengan anak yang dibesarkan dengan uang akan cenderung berpikir praktis dan kurang kasih sayang. Yah seperti itulah rakyat papua saat ini, anak yang selama ini dibesarkan dengan uang.

Apakah uang solusi? Ya, tapi solusi sesaat. Rakyat papua ingin diberikan kasih sayang layaknya orang tua ke anak, bukan tuan ke majikan. Rakyat papua ingin didengarkan bukan dianggap mengancam kedaulatan NKRI. Seharusnya dengan kejadian 2019 lalu kita bisa mengambil pelajaran bahwa rasisme seharusnya tidak terjadi namun seperti enggan mengambil pelajaran, kasus rasisme semakin bergulir bukan hanya dilakukan oleh kalangan biasa namun juga oleh aparat bahkan sekelas politikus yang dianggap berpendidikan pun masih melakukan tindakan rasisme.

Islam Solusi Rasisme

Islam adalah agama yang mulia. Islam memosisikan keberagaman bahasa dan warna kulit sebagai fitrah alami manusia. Keragaman sekaligus membuktikan kekuasaan Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan langit dan bumi serta ragam bahasa dan warna kulit kalian. Sungguh pada yang demikan benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (TQS ar-Rum [30]: 22).
Menurut Imam as-Suyuthi, segala ciptaan-Nya ini sebagai petunjuk bagi orang yang mempunyai akal dan ilmu.
Islam juga memandang keberagaman suku-bangsa sebagai sarana untuk saling mengenal:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahatahu lagi Mahateliti (TQS al-Hujurat [49]: 13).
Rasulullah saw. dalam berbagai sabdanya mempertegas bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh warna kulit maupun suku bangsa, tetapi ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.

Pesan Rasulullah saw. saat Haji Wada’ menarik untuk diperhatikan. Beliau menyampaikan pesannya saat tiba di Namirah. Sebuah desa sebelah timur Arafah. Di depan ribuan jamaah haji beliau antara lain bersabda, “Sungguh ayahmu satu. Semua kalian berasal dari Adam. Adam diciptakan dari tanah. Tiada kelebihan orang Arab atas non-Arab. Tiada kelebihan non-Arab atas orang Arab kecuali karena ketakwaan. Tiada pula kelebihan orang putih atas orang hitam. Tiada kelebihan orang hitam atas orang putih kecuali karena ketakwaan.” Bahkan Rasulullah saw pernah sangat marah kepada Sahabat Abu Dzar al-Ghifari ra. saat berselisih dengan Sahabat Bilal ra. Pasalnya, Abu Dzar ra. memanggil Bilal ra. dengan sebutan, “Ya Ibna as-Sawda’ (Hai anak seorang perempuan hitam).”

Rasulullah saw. dengan tegas mengatakan kepada Abu Dzar ra., “Abu Dzar, kamu telah menghina dia dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliah!” (Lihat: Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 7/130).
Teguran keras Rasulullah saw. ini merupakan pukulan berat bagi Abu Dzar ra. Abu Dzar ra. sampai meminta Bilal ra. untuk menginjak kepalanya sebagai penebus kesalahannya dan sifat jahiliahnya.
Dalam perjalanan sejarah, Islam saat diterapkan terbukti berhasil menyatukan manusia dari berbagai ras, warna kulit, dan suku-bangsa hampir 2/3 dunia selama lebih dari sepuluh abad. Hal ini tak mampu dilakukan oleh ideologi lain. Wilayah-wilayah yang dibebaskan Khilafah Islam diperlakukan secara adil. Mereka tidak dieksploitasi seperti yang dilakukan negara-negara imperialis pengemban peradaban demokrasi-kapitalisme.
Dakwah Islam oleh Khilafah dilakukan tanpa memaksa non-Muslim untuk memeluk Islam. Islam hadir untuk memberikan rahmat untuk alam semesta, bukan hanya manusia. Islam mampu menyatukan umat manusia dari berbagai ras, warna kulit, suku bangsa maupun latar belakang agama menjadi sebuah masyarakat yang khas. Semua itu terwujud dalam suatu naungan sistem Khilafah Islam.

Hal ini sangat jelas diakui oleh sejarawan Barat Will Durant dalam bukunya berjudul The Story of Civilization:
“Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol… Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluk dan berpegang teguh pada Islam pada saat ini (1926) sekitar 350 juta jiwa. Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati mereka walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.”
Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُم
Sungguh Allah tidak melihat fisik dan rupa kalian, melainkan Dia melihat kalbu-kalbu kalian. (HR Muslim). (**)

Berita Terkait

Opini WTP vs Pencitraan Kepala Daerah
Keistimewaan Malam Lailatul Qadar
Pembangunan Melejit, Ekonomi Makin Sulit
Pemilu Serentak, Hajatan Boros Dalam Sistem Keropos
Tinta Demokrasi di Tahun 2024
Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78 Tahun
Kasus HIV Meningkat, Buah Penerapan System Sekuler
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, Umumkan Pengakuan Atas Kemerdekaan Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Juni 2024 - 20:59 WIB

Opini WTP vs Pencitraan Kepala Daerah

Senin, 1 April 2024 - 12:03 WIB

Keistimewaan Malam Lailatul Qadar

Selasa, 13 Februari 2024 - 22:05 WIB

Pembangunan Melejit, Ekonomi Makin Sulit

Selasa, 13 Februari 2024 - 16:10 WIB

Pemilu Serentak, Hajatan Boros Dalam Sistem Keropos

Selasa, 2 Januari 2024 - 08:39 WIB

Tinta Demokrasi di Tahun 2024

Berita Terbaru

error: