Menu

Mode Gelap
Aksi Simpatik Mahasiswa dan Masyarakat Adat Mbaham-Matta di Fakfak: Dukung RUU TNI dan Berbagi Takjil Militer Islam Penjaga Agama, Negara, dan Umat Ramadhan 1446 H, Unit Pengumpulan Zakat Masjid Agung Baitul Makmur Telah Dibuka Bank Papua Cabang Fakfak Gandeng 5 UMKM Binaan, Dorong Transaksi Non-Tunai (Qris) Polres Fakfak Gelar Buka Puasa Bersama dan Salurkan Bansos Kepada Anak-anak Kurang Mampu QRIS Safari Ramadhan Penuh Berkah, Bank Indonesia Gelar Acara di RTH Ma’aruf Amin Fakfak Papua Barat

Opini

Tahun Baru Semangat Jejak Langkah Baru

badge-check


					Tahun Baru Semangat Jejak Langkah Baru Perbesar

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

EMBARANMEDIA.COM – Banyak warga masyarakat menantikan tahun baru dengan semangat kegembiraan tinggi. Ketika hari yang dinantikan itu tiba tidak sedikit yang euforia, seakan menemukan sesuatu yang membahagiakan. Hingga batas tertentu hal itu manusiawi karena manusia memiliki sifat dasar suka kesenangan yang bersifat inderawi atau duniawi.

Tapi sebagai bahan refleksi, penting kiranya bertanya pada diri sendiri. Untuk apa menyambut tahun baru dengan euforia? Lebih-lebih disertai pestapora hingga ada yang berlebihan. Bukankah datangnya tahun baru dan lepasnya tahun lama sejatinya usia setiap orang berkurang satu tahun. Lalu, bagi orang beriman, apa bekal hidup kita di Hari Akhir pasca kehidupan di dunia?

Tuhan bersumpah demi waktu dalam “al-Ashr”. Manusia akan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran (QS Al-Ashr: 1-3).

Nabi pun bersabda yang artinya tiga perkara yang akan menyertai manusia hidup di Hari Akhir setelah kematian. Pertama amal jariyah atau amal shaleh, kedua anak shaleh yang mendoakan orangtuanya, ketiga ilmu yang dimanfaatkan.

Karenanya, sangat bijaksana jika kehadiran tahun baru disambut dengan kesadaran diri yang utama untuk memperbaiki langkah yang salah atau keliru di tahun lalu dan berbuat yang baik dan lebih baik di tahun depan dalam segala hal. Jika ada jejak tercecer di belakang lebih baik diganti dengan jejak kebajikan ketika memulai awal tahun baru. Kegembiraan cukup sekadarnya dan diganti kebermaknaan.

Bagi para warga dan elite bangsa dalam berbangsa dan bernegara mari tahun baru diawali dengan jejak positif seraya meninggalkan jejak negatif. Seperti pesan Presiden Prabowo dalam Perayaan Natal, agar mereka yang salah seperti para koruptor, melakukan pertobatan.

Pesan penting tersebut mengandung makna mendalam, tinggalkan hal-hal buruk dan salah, serta lakukan jejak baru yang benar dan baik dalam kehidupan kebangsaan. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kerakusan, kekerasan, ketidakadilan, serta segala ketidakbenaran dan ketidakbaikan dalam perikehidupan kebangsaan mesti ditanggalkan dan diucapkan selamat tinggal.

Mari kedepankan kejujuran, keterpercayaan, kerja keras, kemandirian, kebersamaan, keluhuran moral, dan keberadaban dalam mengawali tahun baru. Bagi kaum muda serta Generasi Milenial dan Gen Z utamakan kepercayaan pada diri sendiri, kegigihan, dan etos kemajuan seraya jauhi hidup serba menerabas dan instan. Masa depan tergantung pada jejak masa kini dan awal tahun baru 2025 adalah langkah angkatan pertama (the first time) memulai hidup dengan etos kemajuan meraih keberhasilan yang bermakna!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Militer Islam Penjaga Agama, Negara, dan Umat

23 Maret 2025 - 14:27

Krisis Moral Guru dalam Sistem Sekuler, Urgensi Solusi Islam

20 Maret 2025 - 09:37

Berlomba dalam Kebaikan: Kiat Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat

6 Desember 2024 - 09:33

Catatan Pembelajaran Politik Pilkada Fakfak 2024

14 November 2024 - 14:42

Mengapa Ten Hag tidak dipecat lebih awal ?

6 November 2024 - 18:55

Trending di Opini
WhatsApp
error: