EMBARANMEDIA.COM, FAKFAK – Kabar menggembirakan datang dari sentra perkebunan pala di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Harga fuly pala (bunga pala) varietas Tomandin kini menembus Rp250.000 per kilogram menjadi salah satu harga tertinggi di tingkat produsen dalam beberapa waktu terakhir.
Lonjakan harga ini menjadi sinyal kuat bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki daya saing dan permintaan tinggi di pasar nasional. Komoditas unggulan ini diburu pembeli antar pulau hingga luar negeri yang beroperasi melalui kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Permintaan yang stabil membuat harga jualnya tetap kompetitif dan relatif lebih kokoh dibandingkan pala dari sejumlah daerah lain.
Fuly pala dikenal sebagai bagian paling bernilai dari buah pala. Komoditas ini banyak digunakan dalam industri rempah, makanan dan minuman, farmasi, hingga kosmetik. Saat harga mencapai titik premium seperti sekarang, dampaknya langsung dirasakan petani: pendapatan meningkat, daya beli menguat, dan semangat menjaga kualitas produksi semakin tinggi.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menjelaskan bahwa harga Rp250.000 per kilogram menempatkan fuly Pala Tomandin Fakfak sebagai salah satu yang tertinggi di tingkat pembelian produsen di Indonesia saat ini.
Namun, harga tersebut hanya bisa dicapai dengan persyaratan mutu tertentu. Fuly harus berasal dari pala tua atau matang petik, dipisahkan dari bijinya secara utuh tanpa menggunakan alat, serta melalui proses pengeringan dan sortasi yang benar.
“Mutu menjadi kunci. Kalau kualitas terjaga, pembeli tetap bersedia mengikuti harga yang berlaku di Fakfak,” ujarnya saat melakukan inspeksi ke sejumlah pedagang grosir dan pedagang antar pulau, Selasa (03/03/2026).
Jika dibandingkan dengan sentra pala seperti Maluku Utara, Aceh Selatan, maupun beberapa wilayah di Sulawesi Utara, harga fuly di daerah tersebut umumnya berada pada kisaran lebih rendah dan sangat bergantung pada volume produksi. Saat pasokan melimpah, harga bahkan bisa turun di bawah Rp200.000 per kilogram.
Lalu, mengapa Fakfak bisa lebih tinggi ?
Pertama, kualitas dan ciri khas aroma.
Fuly pala Fakfak dikenal memiliki warna merah cerah, serat utuh, serta aroma kuat dengan kandungan minyak atsiri yang baik. Karakter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli antar pulau maupun buyer luar negeri.
Kedua, ketersediaan terbatas.
Fuly merupakan bagian bunga pala yang jumlahnya tidak sebanyak biji, sementara kebutuhan industri cukup tinggi. Kelangkaan alami ini menjaga harga tetap premium.
Ketiga, permintaan stabil dari luar daerah.
Pedagang besar di Jakarta dan Surabaya tetap bersedia membeli dengan harga tinggi karena kualitas pala Fakfak dinilai konsisten dan memiliki segmen pasar tersendiri.
Selain faktor kualitas, tata kelola dan pengawasan mutu yang semakin baik turut memperkuat posisi tawar Fakfak. Produk yang dipasarkan kini lebih selektif melalui proses uji kualitas dan pengemasan rapi, sehingga kepercayaan pasar tetap terjaga.
Widhi mengungkapkan pihaknya terus mengedukasi pelaku usaha dan pekebun pala agar menjaga mutu, menunggu waktu panen yang tepat, serta memahami kalender musim tanam dan panen.
Ia juga mengaku dihubungi sejumlah buyer dari luar daerah yang menanyakan langsung ketersediaan dan produktivitas fuly pala Fakfak. Bahkan, para pembeli secara terbuka menyatakan kesiapannya mengikuti harga yang berlaku di tingkat perdagangan Fakfak selama kualitas terjamin.
Momentum harga tinggi ini dinilai sebagai titik balik perubahan pola usaha petani pala.
“Jangan lagi menjual pala dalam kondisi mentah atau basah. Nilai ekonominya sangat berbeda. Jika diolah hingga kering dan berkualitas, harga yang diterima bisa jauh lebih tinggi dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga,” tegasnya.
Penguatan pascapanen menjadi kunci hilirisasi komoditas pala di Fakfak. Mulai dari pemisahan biji dan fuly, proses pengeringan yang tepat, sortasi mutu, hingga pengemasan standar semuanya menentukan nilai jual akhir.
Dengan pengolahan yang benar, petani tidak lagi sekadar produsen bahan baku, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha bernilai tambah.
Dinas Perkebunan Fakfak, lanjutnya, siap mendukung melalui pendampingan teknis, peningkatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar petani mandiri dalam pengolahan dan pemasaran.
“Kalau kita ingin Pala Tomandin Fakfak tetap berjaya, mendapatkan harga tinggi dan memberi manfaat besar, maka kuncinya ada pada mutu, kualitas, dan keberanian petani untuk mengolah sendiri hasil panennya,” pungkasnya.
Pewarta: AZT || Editor: Redaksi Embaranmedia







